p/s: nama dalam kisah ini bukan nama sebenar...sekadar iktibar...
Kisah ini diambil dari sebuah blog yang menceritakan pengalaman penulis blog tersebut bacalah dan ambil pelajaran untuk post kali ini saya terpanggil untuk menampilkan kisah yang dah lama terjadi ... pastinya ada yang pernah mendengar kisah ini ... sohih atau tidak, saya tak pasti. ... bagaimanapun, dapat dibaca sebagai iktibar ... wallahualam
"Heran saya melihat beberapa orang desa berkumpul di toko pada siang itu. 1 September 1994. Serius mereka mengobrol sampai dahi berkerut-kerut. Lepas seorang bercerita yang lain menggelengkan kepala. Pasti ada sesuatu yang 'besar' sedang mereka bicarakan, kata saya di dalam hati. Setelah mesin motor dimatikan, saya berjalan ke arah mereka.
"Bincang apa tu? Serius saya tengok,"
saya menyapa. "Haaa ... Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak bisa keluar dari kubur emak dia?" Kata Jaimi, teman saya.
"Budak perempuan? Tak bisa keluar dari kubur. Saya tak mengerti bah," jawab saya. Memang saya tak mengerti karena lain benar apa yang mereka katakan itu.
"Macam ni," kata Jaimi, lalu menyambung, "
di kubur kat desa Batu 10 tu, ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia, tapi lalu dia pula yang tak bisa keluar dari kubur tu.
Sekarang ni orang tengah nak keluarkan dia ... tapi belum dapat lagi ".
"Kenapa jadi macam tu?" Saya bertanya supaya Jaimi bercerita lebih mendalam. Patutlah serius sangat mereka mengobrol ..
Jaimi memulai ceritanya. Kata beliau, mengingat semalam adalah hari libur semperna Hari Nasional, budak perempuan berumur belasan tahun itu meminta uang dari ibunya untuk keluar bersama teman-teman ke Kota Sandakan.
Namun, ibunya yang sudah berusia dan sakit pula enggan memberikannya uang.
"Bukannya banyak, RM 20 saja mak!" Gadis itu membentak.
"Mana emak ada duit. Minta dengan ayahmu," jawab ibunya perlahan. Sambil itu dia memijat kakinya yang sengal. Sudah bertahun-tahun dia mengidap darah tinggi, lemah jantung dan diabetes.
"Maaak ... teman-teman semuanya keluar. Saya pun nak jalan jugak," kata gadis itu.
"Yeah, mak tau ... tapi mak tak ada duit," balas ibunya.
"RM 20 saja!" Si gadis berkata.
"Tak ada," jawab ibunya. "Emak memang pelit!"
si gadis mulai mengeluarkan kata-kata keras. "Bukan macam tu ta ..."
belum pun habis ibunya menjelaskan, gadis tersebut menyanggah, katanya,
"Ahhh ... sudahlah emak! Saya tak mau dengar!"
"Kalau emak ada du ..." ibunya menyambung,
tapi belum pun habis kata-katanya, si gadis memotong lagi,
katanya; "Kalau abang, bisa, tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada!
"Bersamaan dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan mendorongnya ke pintu.
Si ibu jatuh ke lantai. "Saida .. Sai .. dddaaa .." katanya pelan sambil mengurut dada. Wajahnya berkerut menahan sakit. Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai.
Dia sebaliknya masuk ke kamar dan berkurung tanda protes. Di dalam kamar, dibalingnya bantal dan selimut ke dinding. Dan sementara di luar, suasana sunyi sepi. Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar.
Alangkah terkejutnya dia karena ibunya tidak bergerak lagi. Bila dipegang ke pergelangan tangan dan bawah leher, tidak ada lagi nadi berdenyut.
Si gadis panik. Dia meraung dan menangis memanggil ibunya, tapi tidak bersahut. Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu.
Melalui tetangga, kematian wanita itu mengatakan kepada ayah gadis yang bekerja di luar. Jaimi menyambung ceritanya;
"Mak cik tu dibawa ke kuburan pukul 12.30 tadi. Pada mulanya tak ada apa-apa yang aneh, tapi bila mayatnya nak dimasukkan ke dalam kubur, ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak terdaya nak memasukkannya ke dalam kubur. Suaminya sendiri pun tak bisa bantu. "
"Tapi bila budak perempuan tu tolong, mayat ibunya langsung jadi ringan. Dia seorang pun bisa angkat dan letak mayat ibunya di tepi kubur."
Kemudian gadis tersebut masuk ke dalam kubur untuk menyambut jenazah ibunya. Sekali lagi massal penduduk kampung mengangkat mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis tersebut.
Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke dalam lahad. Namun ketika dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut, tiba-tiba kakinya tidak bisa diangkat. Ini seperti dipaku ke tanah. Si gadis mulai cemas.
"Kenapa ni ayah?" Kata si gadis. Wajahnya langsung pucat pasi.
"Apa pasal," Si ayah bertanya.
"Kaki Saida ni .. tak bisa angkat!
"Balas si gadis yang kian cemas. Orang banyak yang berada di sekeliling kuburan mulai riuh.
Seorang demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Ayah, tarik tangan saya ni. Kaki saya terjebak ... tak dapat nak naik," gadis tersebut mengulurkan tangan ke arah ayahnya.
Si ayah menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal. Kaki gadis tersebut melekat kuat ke tanah. Beberapa orang lagi dipanggil untuk menariknya keluar, juga tidak berhasil.
"Ayah ... Kenapa ni ?? !!
Tolonglah Saida, ayah .. "si gadis menangis memandang ayah dan adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kuburan. Semakin banyak orang berbondong ke pinggir kuburan.
Mereka mencoba menariknya massal namun sudah ketentuan Allah, kaki si gadis tetap terpasak di tanah. Tangisannya bertambah kuat.
"Tolong saya ayah, tolong saya ... Kenapa jadi macam ni ayah?" Kata si gadis sambil meratap. "Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal.
Sekarang, ayah pun tak tau nak buat macam mana, "jawab si ayah setelah gagal mengeluarkan anaknya itu.
Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi tidak bergeming walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.
"Emak ... ampunkan Saida emak, ampunkan Saida ..." gadis itu menangis. Sambil itu dipeluk dan dicium jenazah. Air matanya sudah tidak bisa diempang lagi.
"Maafkan Saida emak, maafkan, Saida bersalah, Saida menyesal ... Saida menyesal .. Ampunkan Saida emak," dia menangis lagi sambil memeluk jenazah ibunya yang telah kaku. Kemudian gadis itu mengulurkan lagi tangannya supaya bisa di tarik keluar. Massal orang mencoba mengeluarkannya namun kecewa.
Bila terlalu lama mencoba tapi gagal, imam memutuskan bahwa kuburan tersebut harus dikambus.
"Kita kambus sedikit saja, sampai mayat ibunya tak terlihat lagi. Kita tak bisa biarkan mayatnya macam tu saja ... kalau hujan macam mana?" Kata imam kepada ayah gadis tersebut. "Habis anak saya?" tanya si ayah.
"Kita akan terus mencoba menariknya keluar. Kita buat dua-dua sekali, mayat istrimu disempurnakan, anak awak kita selamatkan," kritik imam.
Pria tersebut setuju. Lalu seperti yang diputuskan, pemakaman harus diteruskan sampai selesai, termasuk talkinnya. Bagaimana pun kuburan dikambus sebatas lutut gadis saja, cukup untuk mengubur seluruh jenazah ibunya.
Yang menyedihkan, ketika itu si gadis masih di dalam kubur. Bila talkin dibaca, dia menangis dan meraung kesedihan. Sambil itu dia meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata. Selesai upacara itu, orang berusaha lagi menariknya keluar.
Tapi tidak berhasil. "Bila dah lama sangat. Saya balik kejap untuk makan. Dah lapar sangat. Lepas itulah saya singgah ke toko ni. Lepas ni saya nak ke kubur lagi. Nak tengok apa yang terjadi," kata Jaimi. "Saya pun nak pergilah," kata saya.
Lalu kami semua naik sepeda motor masing-masing menuju ke kuburan. Kami lihat orang sudah berkumpul di sana. Beberapa buah mobil polisi juga terlihat di situ. Saya terus berjalan cepat menuju kuburan yang dimaksudkan dan berusaha menyusup ke celah-celah orang yang sedang bersesak-sesak.
Setelah penat berusaha, akhirnya saya berhasil sampai kebarisan paling depan. Sayangnya saya tidak dapat melihat gadis tersebut karena di depan kami telah dibuat kandang tali.
Kubur itu pula beberapa puluh meter dari kami dan terlindung oleh kubur serta pohon-pohon rimbun. Di dalam kandang itu, anggota-anggota polisi berpatroli dengan senjata masing-masing. Nasib saya memang baik hari itu.
Dua tiga orang dari polisi tersebut adalah kontak saya. "Pssstt ... Raie. ..Raie..Psstt," Saya memanggil, Raie yang perasan saya memanggilnya mengangkat tangan.
"Dapat saya tengok budak tu?" Saya bertanya sebaik saja diadatang ke arah saya. "Mana bisa. Keluarga dia saja yang bisa," jawabnya lembut seperti berbisik. Sambil itu dia melirik ke kiri dan kanan, khawatir ada orang yang tahu.
"Sekejap saja. Bolehlah ..." saya membujuk. Alhamdulillah, setelah puas dipujuk dia mengalah. Tanpa basa, saya menyusup perlahan dan berjalan beriringan dengan Raie, seolah-olah tidak melakukan apa-apa kesalahan. Namun demikian dada saya berdebar kencang.
Pertama, khawatir & takut diusir. Kedua, tidak sabar ingin melihat apa yang sedang terjadi pada gadis tersebut. Setelah meredah kuburan yang bertebaran, akhirnya saya sampai ke pusara yang dimaksudkan.
Di pinggir kuburan itu berdiri dua tiga orang polisi mengawasi kedatangan saya. Raie mendekati mereka dan berbisik-bisik. Mungkin dia merayu supaya saya tidak diusir. Alhamdulillah, saya lihat seorang polisi yang berpangkat mengangguk.
Raie terus memanggil saya lalu memuncungkan bibirnya ke arah kuburan. Bila dijenguk kedalam, dada saya langsung terasa sebak. Saya lihat gadis tersebut sedang duduk di atas tanah kuburan sambil terisak. Sebentar kemudian dia memegang tanah dekat lahad dan merintih;
"Emak ... ampunilah Saida, Saida sadar, Saida durhaka pada emak, Saida menyesal, Saida menyesal .." Setelah menyeka air jernih yang terus berjejeran dari mata yang bengkak, gadis tersebut menangis lagi memohon keampunan dari arwah ibunya.
"Emak ... lepaskanlah kaki saya ni. Ampunkan saya, lepaskan saya," Ditarik-tariknya kaki yang melekat di tanah namun tidak berhasil juga. Saya lihat ayah dan adik-beradiknya menangis, di pinggir kuburan. Sebenarnya mereka sendiri tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan untuk menyelamatkan gadis tersebut.
"Sudahlah tu Saida ... makanlah sikit nak," rayu ayahnya sambil mengulurkan sepiring nasi juga segelas air. Si gadis tersebut langsung mengabaikan. Bahkan memandang ke atas pun tidak. Dia sebaliknya terus meratap meminta ampun dari arwah ibunya.
Hampir menetes air mata saya melihat Saida. Tidak saya sangka, cerita datuk dan nenek tentang anak durhaka kini terjadi di depan mata. Begitu besar kekuasaan Allah. Memang betullah kata para alim ulama, dosa mendurhakai orangtua akan di balas 'tunai'.
Sayangnya saya tidak bisa lama di sana. ***** a 10 - 15 menit saja karena Raie mengatakan, pegawainya ingin saya melakukannya. Mau tidak mau, terpaksalah saya meninggalkan kuburan tersebut. Sambil berjalan terdengar lagi Saida menangis dan meratap
"Ampunkan saya emak, ampunkan saya, Ya Allah, lepaskanlah kakiku ini. Saya bertobat, saya insaf ..." Lantas saya menoleh diubah. Saya lihat ayah Saida dan adik beradiknya sedang menarik tangan gadis itu untuk dibawa keluar, tapi seperti tadi, tidak berhasil. Saya lihat seorang polisi mengesatkan air matanya.
Semakin lama semakin banyak orang berkumpul mengelilingi pemakaman itu. Beberapa mobil polisi datang dan anggotanya berpatroli di dalam kandang lengkap dengan senjata masing-masing.
Wartawan dan fotografer berkerumun datang untuk meliput tetapi tidak diizinkan. Mereka merayu bermacam-macam cara, namun demi kebaikan keluarga gadis, permintaan itu harus ditolak.
Matahari kian terbenam, akhirnya tenggelam dan malam merangkak tiba. Saida masih begitu. Kaki tetap di dalam kubur ibunya sementara dia tidak henti-hentinya meratap meminta pengampunan.
Saya pulang ke rumah dan malam itu tidak dapat melelapkan mata. Suara tangisannya terngiang-ngiang di telinga saya. Saya diberitahu, sejak siang, tidak ada sepotong makanan maupun minuman masuk ke tenggorokannya.
Seleranya sudah mati. Tua dan adik beradiknya masih tetap di sisi kubur membaca al-Quran, Yassin dan berdoa. Namun telah disebutkan Allah, durhaka terhadap orang tua adalah dosa yang sangat besar. Saida tetap tidak dapat dikeluarkan.
Embun mulai menetes. Saida kesejukan pula. Dengan selimut yang diberi oleh ayahnya dia berkelubung. Namun dia tidak bisa tidur.
Saida menangis dan memohon kepada Allah agar mengampuni dosanya. Begitulah yang terjadi keesokannya. Orang banyak pula tidak susut mengerumuni pemakaman itu. Meskipun tidak dapat melihat gadis tersebut tapi mereka puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengarkan orang-orang bercerita.
Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida meninggal dunia. Mungkin karena terlalu lemah dan tidak tahan di bakar panas matahari pada siang hari dan dingin di malam hari. Mungkin juga karena tidak makan dan minum. Atau mungkin juga karena terlalu sedih sangat dengan apa yang dilakukannya.
Allah Maha Agung ... sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir, barulah tubuhnya dapat di keluarkan. Mayat gadis itu kemudian disempurnakan seperti mayat-mayat lain. Kuburnya sekarang di penuhi lalang. Di bawah redup daun kelapa yang melambai-lambai, tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang durhaka.
Kisah ini diambil dari sebuah blog yang menceritakan pengalaman penulis blog tersebut bacalah dan ambil pelajaran untuk post kali ini saya terpanggil untuk menampilkan kisah yang dah lama terjadi ... pastinya ada yang pernah mendengar kisah ini ... sohih atau tidak, saya tak pasti. ... bagaimanapun, dapat dibaca sebagai iktibar ... wallahualam
"Heran saya melihat beberapa orang desa berkumpul di toko pada siang itu. 1 September 1994. Serius mereka mengobrol sampai dahi berkerut-kerut. Lepas seorang bercerita yang lain menggelengkan kepala. Pasti ada sesuatu yang 'besar' sedang mereka bicarakan, kata saya di dalam hati. Setelah mesin motor dimatikan, saya berjalan ke arah mereka.
"Bincang apa tu? Serius saya tengok,"
saya menyapa. "Haaa ... Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak bisa keluar dari kubur emak dia?" Kata Jaimi, teman saya.
"Budak perempuan? Tak bisa keluar dari kubur. Saya tak mengerti bah," jawab saya. Memang saya tak mengerti karena lain benar apa yang mereka katakan itu.
"Macam ni," kata Jaimi, lalu menyambung, "
di kubur kat desa Batu 10 tu, ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia, tapi lalu dia pula yang tak bisa keluar dari kubur tu.
Sekarang ni orang tengah nak keluarkan dia ... tapi belum dapat lagi ".
"Kenapa jadi macam tu?" Saya bertanya supaya Jaimi bercerita lebih mendalam. Patutlah serius sangat mereka mengobrol ..
Jaimi memulai ceritanya. Kata beliau, mengingat semalam adalah hari libur semperna Hari Nasional, budak perempuan berumur belasan tahun itu meminta uang dari ibunya untuk keluar bersama teman-teman ke Kota Sandakan.
Namun, ibunya yang sudah berusia dan sakit pula enggan memberikannya uang.
"Bukannya banyak, RM 20 saja mak!" Gadis itu membentak.
"Mana emak ada duit. Minta dengan ayahmu," jawab ibunya perlahan. Sambil itu dia memijat kakinya yang sengal. Sudah bertahun-tahun dia mengidap darah tinggi, lemah jantung dan diabetes.
"Maaak ... teman-teman semuanya keluar. Saya pun nak jalan jugak," kata gadis itu.
"Yeah, mak tau ... tapi mak tak ada duit," balas ibunya.
"RM 20 saja!" Si gadis berkata.
"Tak ada," jawab ibunya. "Emak memang pelit!"
si gadis mulai mengeluarkan kata-kata keras. "Bukan macam tu ta ..."
belum pun habis ibunya menjelaskan, gadis tersebut menyanggah, katanya,
"Ahhh ... sudahlah emak! Saya tak mau dengar!"
"Kalau emak ada du ..." ibunya menyambung,
tapi belum pun habis kata-katanya, si gadis memotong lagi,
katanya; "Kalau abang, bisa, tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada!
"Bersamaan dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan mendorongnya ke pintu.
Si ibu jatuh ke lantai. "Saida .. Sai .. dddaaa .." katanya pelan sambil mengurut dada. Wajahnya berkerut menahan sakit. Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai.
Dia sebaliknya masuk ke kamar dan berkurung tanda protes. Di dalam kamar, dibalingnya bantal dan selimut ke dinding. Dan sementara di luar, suasana sunyi sepi. Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar.
Alangkah terkejutnya dia karena ibunya tidak bergerak lagi. Bila dipegang ke pergelangan tangan dan bawah leher, tidak ada lagi nadi berdenyut.
Si gadis panik. Dia meraung dan menangis memanggil ibunya, tapi tidak bersahut. Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu.
Melalui tetangga, kematian wanita itu mengatakan kepada ayah gadis yang bekerja di luar. Jaimi menyambung ceritanya;
"Mak cik tu dibawa ke kuburan pukul 12.30 tadi. Pada mulanya tak ada apa-apa yang aneh, tapi bila mayatnya nak dimasukkan ke dalam kubur, ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak terdaya nak memasukkannya ke dalam kubur. Suaminya sendiri pun tak bisa bantu. "
"Tapi bila budak perempuan tu tolong, mayat ibunya langsung jadi ringan. Dia seorang pun bisa angkat dan letak mayat ibunya di tepi kubur."
Kemudian gadis tersebut masuk ke dalam kubur untuk menyambut jenazah ibunya. Sekali lagi massal penduduk kampung mengangkat mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis tersebut.
Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke dalam lahad. Namun ketika dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut, tiba-tiba kakinya tidak bisa diangkat. Ini seperti dipaku ke tanah. Si gadis mulai cemas.
"Kenapa ni ayah?" Kata si gadis. Wajahnya langsung pucat pasi.
"Apa pasal," Si ayah bertanya.
"Kaki Saida ni .. tak bisa angkat!
"Balas si gadis yang kian cemas. Orang banyak yang berada di sekeliling kuburan mulai riuh.
Seorang demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Ayah, tarik tangan saya ni. Kaki saya terjebak ... tak dapat nak naik," gadis tersebut mengulurkan tangan ke arah ayahnya.
Si ayah menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal. Kaki gadis tersebut melekat kuat ke tanah. Beberapa orang lagi dipanggil untuk menariknya keluar, juga tidak berhasil.
"Ayah ... Kenapa ni ?? !!
Tolonglah Saida, ayah .. "si gadis menangis memandang ayah dan adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kuburan. Semakin banyak orang berbondong ke pinggir kuburan.
Mereka mencoba menariknya massal namun sudah ketentuan Allah, kaki si gadis tetap terpasak di tanah. Tangisannya bertambah kuat.
"Tolong saya ayah, tolong saya ... Kenapa jadi macam ni ayah?" Kata si gadis sambil meratap. "Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal.
Sekarang, ayah pun tak tau nak buat macam mana, "jawab si ayah setelah gagal mengeluarkan anaknya itu.
Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi tidak bergeming walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.
"Emak ... ampunkan Saida emak, ampunkan Saida ..." gadis itu menangis. Sambil itu dipeluk dan dicium jenazah. Air matanya sudah tidak bisa diempang lagi.
"Maafkan Saida emak, maafkan, Saida bersalah, Saida menyesal ... Saida menyesal .. Ampunkan Saida emak," dia menangis lagi sambil memeluk jenazah ibunya yang telah kaku. Kemudian gadis itu mengulurkan lagi tangannya supaya bisa di tarik keluar. Massal orang mencoba mengeluarkannya namun kecewa.
Bila terlalu lama mencoba tapi gagal, imam memutuskan bahwa kuburan tersebut harus dikambus.
"Kita kambus sedikit saja, sampai mayat ibunya tak terlihat lagi. Kita tak bisa biarkan mayatnya macam tu saja ... kalau hujan macam mana?" Kata imam kepada ayah gadis tersebut. "Habis anak saya?" tanya si ayah.
"Kita akan terus mencoba menariknya keluar. Kita buat dua-dua sekali, mayat istrimu disempurnakan, anak awak kita selamatkan," kritik imam.
Pria tersebut setuju. Lalu seperti yang diputuskan, pemakaman harus diteruskan sampai selesai, termasuk talkinnya. Bagaimana pun kuburan dikambus sebatas lutut gadis saja, cukup untuk mengubur seluruh jenazah ibunya.
Yang menyedihkan, ketika itu si gadis masih di dalam kubur. Bila talkin dibaca, dia menangis dan meraung kesedihan. Sambil itu dia meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata. Selesai upacara itu, orang berusaha lagi menariknya keluar.
Tapi tidak berhasil. "Bila dah lama sangat. Saya balik kejap untuk makan. Dah lapar sangat. Lepas itulah saya singgah ke toko ni. Lepas ni saya nak ke kubur lagi. Nak tengok apa yang terjadi," kata Jaimi. "Saya pun nak pergilah," kata saya.
Lalu kami semua naik sepeda motor masing-masing menuju ke kuburan. Kami lihat orang sudah berkumpul di sana. Beberapa buah mobil polisi juga terlihat di situ. Saya terus berjalan cepat menuju kuburan yang dimaksudkan dan berusaha menyusup ke celah-celah orang yang sedang bersesak-sesak.
Setelah penat berusaha, akhirnya saya berhasil sampai kebarisan paling depan. Sayangnya saya tidak dapat melihat gadis tersebut karena di depan kami telah dibuat kandang tali.
Kubur itu pula beberapa puluh meter dari kami dan terlindung oleh kubur serta pohon-pohon rimbun. Di dalam kandang itu, anggota-anggota polisi berpatroli dengan senjata masing-masing. Nasib saya memang baik hari itu.
Dua tiga orang dari polisi tersebut adalah kontak saya. "Pssstt ... Raie. ..Raie..Psstt," Saya memanggil, Raie yang perasan saya memanggilnya mengangkat tangan.
"Dapat saya tengok budak tu?" Saya bertanya sebaik saja diadatang ke arah saya. "Mana bisa. Keluarga dia saja yang bisa," jawabnya lembut seperti berbisik. Sambil itu dia melirik ke kiri dan kanan, khawatir ada orang yang tahu.
"Sekejap saja. Bolehlah ..." saya membujuk. Alhamdulillah, setelah puas dipujuk dia mengalah. Tanpa basa, saya menyusup perlahan dan berjalan beriringan dengan Raie, seolah-olah tidak melakukan apa-apa kesalahan. Namun demikian dada saya berdebar kencang.
Pertama, khawatir & takut diusir. Kedua, tidak sabar ingin melihat apa yang sedang terjadi pada gadis tersebut. Setelah meredah kuburan yang bertebaran, akhirnya saya sampai ke pusara yang dimaksudkan.
Di pinggir kuburan itu berdiri dua tiga orang polisi mengawasi kedatangan saya. Raie mendekati mereka dan berbisik-bisik. Mungkin dia merayu supaya saya tidak diusir. Alhamdulillah, saya lihat seorang polisi yang berpangkat mengangguk.
Raie terus memanggil saya lalu memuncungkan bibirnya ke arah kuburan. Bila dijenguk kedalam, dada saya langsung terasa sebak. Saya lihat gadis tersebut sedang duduk di atas tanah kuburan sambil terisak. Sebentar kemudian dia memegang tanah dekat lahad dan merintih;
"Emak ... ampunilah Saida, Saida sadar, Saida durhaka pada emak, Saida menyesal, Saida menyesal .." Setelah menyeka air jernih yang terus berjejeran dari mata yang bengkak, gadis tersebut menangis lagi memohon keampunan dari arwah ibunya.
"Emak ... lepaskanlah kaki saya ni. Ampunkan saya, lepaskan saya," Ditarik-tariknya kaki yang melekat di tanah namun tidak berhasil juga. Saya lihat ayah dan adik-beradiknya menangis, di pinggir kuburan. Sebenarnya mereka sendiri tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan untuk menyelamatkan gadis tersebut.
"Sudahlah tu Saida ... makanlah sikit nak," rayu ayahnya sambil mengulurkan sepiring nasi juga segelas air. Si gadis tersebut langsung mengabaikan. Bahkan memandang ke atas pun tidak. Dia sebaliknya terus meratap meminta ampun dari arwah ibunya.
Hampir menetes air mata saya melihat Saida. Tidak saya sangka, cerita datuk dan nenek tentang anak durhaka kini terjadi di depan mata. Begitu besar kekuasaan Allah. Memang betullah kata para alim ulama, dosa mendurhakai orangtua akan di balas 'tunai'.
Sayangnya saya tidak bisa lama di sana. ***** a 10 - 15 menit saja karena Raie mengatakan, pegawainya ingin saya melakukannya. Mau tidak mau, terpaksalah saya meninggalkan kuburan tersebut. Sambil berjalan terdengar lagi Saida menangis dan meratap
"Ampunkan saya emak, ampunkan saya, Ya Allah, lepaskanlah kakiku ini. Saya bertobat, saya insaf ..." Lantas saya menoleh diubah. Saya lihat ayah Saida dan adik beradiknya sedang menarik tangan gadis itu untuk dibawa keluar, tapi seperti tadi, tidak berhasil. Saya lihat seorang polisi mengesatkan air matanya.
Semakin lama semakin banyak orang berkumpul mengelilingi pemakaman itu. Beberapa mobil polisi datang dan anggotanya berpatroli di dalam kandang lengkap dengan senjata masing-masing.
Wartawan dan fotografer berkerumun datang untuk meliput tetapi tidak diizinkan. Mereka merayu bermacam-macam cara, namun demi kebaikan keluarga gadis, permintaan itu harus ditolak.
Matahari kian terbenam, akhirnya tenggelam dan malam merangkak tiba. Saida masih begitu. Kaki tetap di dalam kubur ibunya sementara dia tidak henti-hentinya meratap meminta pengampunan.
Saya pulang ke rumah dan malam itu tidak dapat melelapkan mata. Suara tangisannya terngiang-ngiang di telinga saya. Saya diberitahu, sejak siang, tidak ada sepotong makanan maupun minuman masuk ke tenggorokannya.
Seleranya sudah mati. Tua dan adik beradiknya masih tetap di sisi kubur membaca al-Quran, Yassin dan berdoa. Namun telah disebutkan Allah, durhaka terhadap orang tua adalah dosa yang sangat besar. Saida tetap tidak dapat dikeluarkan.
Embun mulai menetes. Saida kesejukan pula. Dengan selimut yang diberi oleh ayahnya dia berkelubung. Namun dia tidak bisa tidur.
Saida menangis dan memohon kepada Allah agar mengampuni dosanya. Begitulah yang terjadi keesokannya. Orang banyak pula tidak susut mengerumuni pemakaman itu. Meskipun tidak dapat melihat gadis tersebut tapi mereka puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengarkan orang-orang bercerita.
Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida meninggal dunia. Mungkin karena terlalu lemah dan tidak tahan di bakar panas matahari pada siang hari dan dingin di malam hari. Mungkin juga karena tidak makan dan minum. Atau mungkin juga karena terlalu sedih sangat dengan apa yang dilakukannya.
Allah Maha Agung ... sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir, barulah tubuhnya dapat di keluarkan. Mayat gadis itu kemudian disempurnakan seperti mayat-mayat lain. Kuburnya sekarang di penuhi lalang. Di bawah redup daun kelapa yang melambai-lambai, tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang durhaka.

0 comments:
Post a Comment