Wednesday, July 22, 2015




Wahai orang yang beriman! Apa yang telah terjadi kepada kamu? Apabila kamu dipanggil, agar turun ke lapangan untuk memperjuangkan agama Allah swt. tiba- tiba kamu memberatkan papan punggung kamu ke permukaan bumi (malas) Kenapa jadi begitu? Apakah karena kamu lebih sayang kepada kehidupan dunia dibandingkan kehidupan akhirat? Ketahuilah! Sesungguhnya kehidupan dunia yang kamu dambakan itu, dibandingkan akhirat yang telah dijanjikan oleh Allah swt. adalah sangat kecil nilainya disisi Allah swt. Jika sekiranya kamu lengah untuk menunaikan amanah perjuangan, niscaya kamu akan diazab oleh Allah swt dengan azab yang sangat pedih. Maksud Firman Allah swt dari surah at Taubah. Ayat: 38 - 39 Seseketika dalam mengarungi perjuangan ini, alangkah kita duduk sejenak untuk menganalisis atau bermuhasabah diri. 

Memandang jauh ke dalam jiwa dengan menyelaminya secara jujur ​​dan transparan terhadap diri sendiri. Lalu kita ajukan pada diri satu pertanyaan, benarkah kita berjuang? Berjuang yang dimaksudkan di sini adalah bekerja keras dengan segala upaya dan daya malah mengambil segala ruang dan peluang untuk menjulang kalimah Allah swt sehingga ia mengatasi ideologi ciptaan manusia, meskipun harus berhadapan dengan tribulasi dan implikasi yang mengancam kepentingan diri. Atas alasan dan tujuan tersebut, kita bergabung jamaah Islam ini untuk memastikan aspirasi perjuangan suci itu dapat kita laksanakan secara lebih efektif. Pertanyaannya, benarkah kita berjuang? 

Benarkah kita berjuang? Kalau hanya mengisi formulir dan mendaftar diri sebagai anggota jamaah Islam tetapi gagal untuk berkomitmen (komitmen) dengan segala kegiatan amal jamaei yang diselenggarakan oleh jamaah. Kita hanya mampu mentarbiyah tetapi tidak dapat tarbiyah Mampu mengarah tetapi tidak dapat diperintahkan.Mampu menegur tetapi tidak bisa ditegur. 

Benarkah kita berjuang? Dengan hanya semata - mata sering menghadiri ceramah - ceramah umum tetapi liat untuk hadir dan menekuni program - program khusus seperti usrah, liqa fikri, tamrin, mukhayyam dan berbagai kegiatan spiritual seperti qiamulail, al mathurat dan zikrullah. Program ceramah dilihat lebih penting sebab kita dapat publisitas sedang usrah ni hanya dihadhiri oleh 10 orang, tidak glamour langsung! 

Benarkah kita berjuang? Apabila kita selalu saja gagal melaksanakan amanah dan tanggung jawab yang telah digalaskan ke atas pundak kita sebagai pimpinan jamaah walau dimana tingkat posisi kepemimpinan kita. Rapat sering tidak hadhir dan kalau pun hadhir hanya dengan kepala kosong. Lebih malang, ada pertemuan dalam pertemuan dan ada pertemuan setelah pertemuan. 

Benarkah kita berjuang?  Sedang banyak waktu kita habiskan untuk santai dan melamun dalam mengimpi kemenangan. Hanya pandai mengomel dan mengkritik kesalahan anggota jamaah yang lain tapi kita sendiri hanya mampu berdiri di tepian lapangan. Kerja kita tidak beres tapi nak ambil kerja orang lain. Kalut tidak bertempat. 

Benarkah kita berjuang?  Seringkali kita mengabaikan hak ukhuwwah atau persaudaraan Islam sesama anggota.Cepat berburuk sangka malah sedikit berbeda pendapat kita terus menyerang pemikiran dan pribadinya seolah - seolah ia adalah musuh tradisi perjuangan kita. Kita rasa hanya kita saja yang hebat, berilmu dan berpengalaman. Pintar berhujjah dan berdebat. Kita pandang sahabat pun hanya dengan sebelah mata, penuh rasa benci. Senyum dan bersalam hanya untuk bermuka - muka.

Benarkah kita berjuang?  Suka sangat kita mengungkapkan rahasia jamaah. Setiap pisau dan patah kata yang dibahas dalam pertemuan kita tulis dalam blog atau web site. Kita jadikan itu bahan sensasi untuk melariskan web site kita jua dengan harapan orang kata kita berani menegakkan kebenaran dan berani melampirkan fakta. Hanya kita yang ingin mempertahankan Islam dan jamaahnya sedang orang lain adalah pengkhianat yang harus ditumpas. 

Benarkah kita berjuang? Karena wawasan dan sesuatu gagasan pemikiran itu dilahirkan oleh pemimpin atau anggota jamaah yang kita tidak suka, maka kita tolak mentah - mentah. Lebih malang kita kasar dalam menolak dan kita lancang dalam berbicara. Langsung kita tidak hiraukan adab ikhtilaf sebaliknya apa yang kita inginkan adalah bagaimana kita nak menang dan pandangan kita yang diadopsi. 

Benarkah kita berjuang?  Kita sanggup pemangkasan sahabat seperjuangan dengan cara yang tidak bermoral agar dia jatuh dan kita yang naik jadi pemimpin. Kita melobi habis daerah dan negeri untuk memastikan kita atau calun pemimpin yang kita suka mencapai kemenangan. Soal mampu atau tidak, benar atau tidak bukan lagi menjadi ukuran. Ukuran tepat ialah dia harus dari team kita. 

Benarkah kita berjuang?  Wala 'atau setia kita telah terbagi, bukan lagi kepada pimpinan jamaah tetapi di sana ada individu berpengaruh dan ia berada di luar jamaah yang sangat kita kagum karektornya. Sedang pimpinan kita sendiri terlihat kolot dan tidak hebat. Kita tidak berdiri teguh di belakang pimpinan kita sebaliknya kita teguh berdiri dan mendukung pemimpin dari luar jamaah kita sendiri. 

Benarkah kita berjuang?  Hubungan kita hanya terbatas pada golongan dan team kita. Dakwah kita tidak melebar ke semua golongan termasuk non muslim. Kita hanya hebat dalam lapangan kita sendiri. 

Benarkah kita berjuang?  Pribadi kita tidak melambangkan inspirasi perjuangan. Kita malu sipu nak jelaskan dasar perjuangan karena keterlaluan ingin menjaga hati. Suara Islam ingin diliberalkan atas alasan orang belum memahami Islam. Penampilan diri juga dinuetralkan agar tidak dianggap fundamental.

Benarkah kita berjuang?  Kita banyak tertawa dan hidup dalam kemewahan. Kita tidak mampu menyelami kesulitan dan kepayahan yang dihadapi oleh para Murabitun jamaah yang ikhlas berjuang, jauh sekali untuk rakyat yang terhimpit. Gaya hidup hampir menyerupai musuh malah meluka perasaan anggota jamaah sendiri. 

Benarkah kita berjuang?  Ibadah kita kurang. Hubungan kita dengan Allah swt jauh. Gagal shalat berjamaah dan membaca al quran pada frekuensi yang lebih dibandingkan orang awam. Kehalusan budi dan ketulusan hati tidak kita dimiliki. Ucapan kita menampakkan kesombongan dan tindakan kita tidak bijaksana. Suka pandang rendah pada orang lain jauh sekali ingin menghormati mereka. 


Benarkah kita berjuang?  Kadang - kadang kita pun keliru tentang konsep kepemimpinan jamaah kita sendiri. Kita sebut kepemimpinan ulama 'tetapi kita tidak beradab dengan ulama'. maki hamun ulama 'dan menista mereka menjadi kalimat yang meniti di bibir kita tanpa rasa bersalah apalagi berdosa. 

Benarkah kita berjuang?  karena kita pun tidak jelas tujuan dan arah perjuangan. jamaah kita ni gerakan Islam ke? atau partai politik semata? Slogan perjuangan pun gagal kita hayati. Tujuan kita, dustur kita, landasan kita, ikutan kita, cita - cita kita tidak mendarah daging dalam diri kita. Malang, sering kita ni cakap lain tetapi tindakan kita lain pula. 

Benarkah kita berjuang?  Banyak sungguh dosa kita. Makin berjuang makin tambah dosa. Dosa mengumpat, dosa mengutuk, dosa salah sangka, dosa pemangkasan, dosa memfitnah, dosa menipu, dosa tidak taat kepada pimpinan, dosa tidak tunai amanah perjuangan, dosa dedah rahasia jamaah, dosa khianat kepada sahabat seperjuangan, dosa hipokrit, dosa jelatang anggota jamaah , dosa dedahkan aib pimpinan dan anggota jamaah, dosa mata, dosa tangan, dosa kaki, dosa telinga, dosa mulu, dosa hati, dosa otak, dosa ...., dosa ...., dosa ..... dan dosa ..... Ya Allah! 

benarkah kita ni berjuang? atau kita selama ini hanya bermain dan menambah beban dosa dalam perjuangan buat diri kita sendiri.hayya bina nu'min saah! ayuh kita kita bersimpuh sejenak untuk kita merenung (Introspection) jauh ke dalam jiwa kita. Terlebih dulu kita singkirkan segala alasan membela diri, sikap menyalahkan orang lain dan rasa diri dipihak benar. Sebaliknya cari alasan untuk menyalahkan diri agar kita insaf, jangan bela diri sehingga dirasa diri kita juga harus dihukum dan kumpulkan rasa bersalah itu atas diri kita sendiri agar kita tidak angkuh untuk mengakui kesalahan sendiri. Sahabat ku semua, marilah kita bermuhasabah agar kita dekat dengan Allah swt dan kita segera diberikan nusrahNya.Insyaallah, muhasabah ini akan memulihkan hubungan kita yang retak, perjuangan kita yang tergugat, dan posisi kita yang kian jauh dari Allah swt Masih banyak item untuk dipertanyakan pada diri kita dengan memulai pertanyaan benarkah kita berjuang? Semoga kita diridhai oleh Allah swt.

Selamat berjuang sahabat ku 


0 comments:

Post a Comment